Guruku Pahlawanku

Advertisement

Guru [digugu lan ditiru] orang tuaku dulu bilang begitu mengartikan sosok guru. Pernah bapakku bilang “nek pengen dadi guru kudu sekolah seng duwur” kalau mau jadi guru harus sekolah yang tinggi (guru tidak hanya harus pintar tapi juga harus bisa membuat orang-orang yang diajar itu menjadi pintar berakhlak dan berkarakter), mendengar kata-kata Guru aku jadi teringat pada seorang Guru ketika jaman SD dulu, namanya Pak.Guru Sukri (sekarang sudah Almarhum) ia meninggal ketika saya kelas lima sekolah dasar, orang-orang didesaku baik tua muda juga panggilnya Pak.Guru Sukri, ya …. pakai Pak.Guru ditambah Sukri tidak boleh diputus kata-kata itu. Seorang Guru yang sudah tua umurnya kira-kira 60 tahun waktu aku kelas dua Sekolah Dasar.
Pak guru sukri orangnya lucu giginya yang palsu sering di mainkan pakai lidahnya mauju mundur bikin anak-anak sekelasku tertawa terbahak-bahak pak guru sukri sering bercerita tentang sikancil, atau nabi-nabi dia sosok yang humoris dan disukai anak-anak sehingga pelajaran yang ia ajarkan disukai sama anak-anak.  Dan yang paling aku ingat adalah lagu “siji loro telu” liriknya kira-kira begini “ siji loro telu, astane sedeku, mirengake pak Guru menowo digugu” he he inget-inget lupa. Ketika bilang siji loro telu jemarinya menunjukkan satu dua dan tiga lalu astane sedeku kedua tangan ditekuk diletakkan diatas meja setelah itu mendengarkan pak guru mentransfer ilmunya. [ Kira-kira begitu ] Guru adalah sosok yang paling disegani dikampungku mungkin karena keikhlasannya dan ketekunannya yang  bener-bener tanpa pamrih, Pak Guru Sukri sampai sekarang masih dikenang dikampungku karena kelucuannya dan keikhlasannya mengajar, hal itu berbalik pada jaman sekarang yang kebanyakan mengartikan Guru adalah sebuah pekerjaan bukan sebuah pengabdian namun tidak semuanya guru seperti itu, masih banyak Guru-guru yang punya hati seperti pak guru sukri, seperti isteri saya [bukannya apa-apa ni dari pada membicarakan orang lain kan dosa kalau salah] xixixiixixix ngeles.


Isteri saya adalah seorang Guru meneruskan ayahnya [mertua saya] (yang tidak memakai seragam itu isteri saya)  menjadi guru Madrasah Ibtida’iyah atau setara SD Dia mengabdi dari tahun 2004 silam dan baru diakui tahun 2010 oleh pemerintah (Bukan PNS) tapi GTT guru tidak tetap [Guru Tombok terus]. Menjadi seorang Guru memang harus bisa ditiru kebaikkannya oleh murid-muridnya, terkadang aku kawatir dengan keadaanya sekarang yang sedang hamil delapan bulan, aku khawatir karena antara kerjaanku dan sekolah tempat ia mengajar jaraknya sangat jauh [antara Semarang dan Batang] sehingga saya tidak bisa setiap hari mengontrol, setiap berangkat ia harus melewati jalan bebatuan yang terjal belum lagi melewati sungai sehingga motornya juga naik perahu untuk melintasinya terkadang kalau musim hujan jalanan menjadi becek air sungai naik dan posisi itu sangat sulit dilalui motor, disitulah kekhawatiranku hamil delapan bulan bukan hal yang gampang untuk mengendalikan motor.

Setiap hari untuk ketempat mengajar isteriku selalu naik perahu ini 
Dimataku dia adalah sosok Guru yang kuat, keikhlasannya seperti Pak.guru Sukri sehingga didaerah isteriku mengajar banyak yang menyukai isteri saya karena ketelitian kecermatan dan kesabarannya mentransfer ilmu kepada anak-anak kecil yang menurutku itu adalah hal yang sulit apalagi kalau pas kita ada masalah dari rumah.  Namun dia bisa memilah antara yang pribadi dan antara mengajar.

Ketika air naik terkadang motor sulit untuk naik perahu

Mungkin keikhlasan yang seperti itulah yang membuat anak-anak didiknya tidak hanya cerdas namun juga berkarakter dan lentur hatinya, kepribadian anak-anak didik juga sangat berpengaruh didalam pembelajaran yang hanya mementingkan otak kiri (logis) dan pengoptimalan otak kanan yang hanya beberapa persen saja membuat anak-anak didik dijaman sekarang hatinya keras dan egois. Dalam hal ini guru sangat berpengaruh selain keluarga yang juga harus stabil karena untuk menyongsong INDONESIA yang lebih maju tentunya didasari pada guru-guru yang berkarakter,ikhlas mengabdi tanpa pamrih.
Kurikulum juga berperan besar dalam perkambangan anak-anak didik karena baik dan buruknya kurikulum bisa berimbas pada siswa dengan kepribadian tertentu, baik dan buruknya system yang ada didunia pendidikan juga sangat berpengaruh pada kemajuan anak-anak didik di Indonesia, dan lagi-lagi Guru harus bisa menyesuaikan kurikulum dan system terhadap pembelajaran kepada anak-anak didik yang mempunyai karakter berbeda Guru kembali diuji disaat ada system yang tidak sesuai didalam dunia pendidikan. Namun serumit-rumitnya system dan kurikulum didalam pengajaran yang diampu oleh seorang Guru, itu semua akan menjadi mudah ketika sudah berhadapan dengan murid-murid yang polos dengan berbagai kelebihan-kelebihan, hati menjadi tenang masalah seakan hilang ketika tiap pagi menyapa mereka ( kata temen saya yang juga seorang Guru ), mengajar didasari dengan keikhlasan juga akan membuat kita awat muda dikenang sepanjang masa ketika Reuni atau ketemu dijalan dan hal lain yang sangat menyenangkan ketika menjadi Guru.
Terimakasih semoga bermanfaat
Share this article :
+
Apakah Anda menyukai postingan ini? Silahkan share dengan klik di sini
author-photo Ahmad Roqib

Saya hanyalah orang biasa yang menyukai blogging dan mencoba berbagi pengalaman dengan yang lain tentang blogging dan SEO. Semoga bisa bermanfaat.

Follow me on: Facebook | Twitter | Google+
×
Previous
Next Post »
20 Blogger Comments
Facebook Comments
Terima kasih sudah berkomentar
Copyright © 2013. Ahmad Roqib Blog - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger